Gagal Mediasi, Dengan Perjanjian Penandatanganan Berita Acara Warga Terdampak Banjir Lumpur di Kelurahan Watulondo Kecewa

         KENDARI-BEDAH.co.id.

Rabu, 11 Maret 2026 -Pemerintah Kelurahan Watulondo, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari menggelar musyawarah mediasi terkait dampak lingkungan yang dirasakan warga akibat banjir dan lumpur yang diduga berasal dari aktivitas sejumlah perumahan di wilayah tersebut. Pertemuan tersebut dilaksanakan di Aula Kantor Kelurahan Watulondo pada Senin (09/03/2026).

Musyawarah dipimpin langsung oleh Lurah Watulondo, Muhammad Rusdi Rudi, serta dihadiri LPM Watulondo, perwakilan warga terdampak, dan sejumlah pihak pengembang perumahan, di antaranya BTN Puri Kongoasa, BTN Ikay Residence, BTN Dreen Residence, dan BTN Saprolite Indah.

Lurah Watulondo, Muhammad Rusdi Rudi, menyampaikan bahwa pertemuan tersebut bertujuan untuk mencari solusi bersama atas keluhan warga yang terdampak banjir lumpur akibat aliran air dari kawasan perumahan di sekitar wilayah RT 15 RW 05.

“Musyawarah ini kita lakukan agar semua pihak dapat menyampaikan pendapatnya dan mencari solusi bersama sehingga dampak lingkungan yang dirasakan warga dapat diminimalkan,” ujar Rusdi.

Dalam pertemuan tersebut, perwakilan pengembang dari BTN Ikay Residence, Gofar, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan sejumlah upaya untuk mengurangi dampak banjir, seperti pembangunan talut dan sistem drainase.

“Untuk masalah banjir yang berada di bagian bawah, jumlahnya sekitar 15 titik. Kami sudah membuat talut dan drainase agar tidak merusak jalan. Namun untuk intensitas hujan yang tinggi tentu itu di luar kendali kami,” jelasnya.

Hal tersebut juga disampaikan oleh perwakilan BTN Dreen Residence, Asrul, yang mengatakan bahwa sistem drainase di kawasan mereka terhubung dengan drainase milik BTN Ikay Residence.

“Drainase kami memang tersambung dengan Ikay, sehingga kami memiliki pandangan yang sama terkait penanganan yang sudah dilakukan,” katanya.

Sementara itu, salah satu warga terdampak, Ian, berharap pihak pengembang dapat memberikan perhatian lebih kepada masyarakat yang terdampak banjir lumpur. Ia juga mengusulkan adanya kompensasi dari pihak pengembang.

“Akibat banjir lumpur ini rumah warga menjadi kotor dan rusak. Kami berharap pengembang dapat memberikan kompensasi minimal untuk pembelian cat rumah serta memperbaiki drainase agar kejadian serupa bisa diminimalkan ke depan,” ungkapnya.

Namun hingga berakhirnya musyawarah, pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan yang memuaskan warga terdampak.

Lembaga Aktivis Pemerhati Lingkungan FORLING Sultra menyayangkan sikap salah satu pihak pengembang yang dinilai belum memberikan solusi terbaik bagi masyarakat yang terdampak banjir lumpur di Lorong Konggoasa.

Salah satu warga terdampak berinisial DS mengungkapkan bahwa banjir yang terjadi beberapa tahun terakhir semakin parah setelah adanya pembangunan perumahan di wilayah atas pemukiman mereka.

“Selama beberapa tahun kami tinggal di sini, kalau musim hujan memang sering banjir, tapi tidak pernah sampai membawa lumpur. Sejak ada dua perumahan yang sedang membangun di atas ini, setiap hujan lumpurnya masuk sampai ke rumah kami dan sangat sulit dibersihkan,” ujar DS kepada awak media.

Warga berharap pemerintah dan pihak pengembang segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki sistem drainase serta mencegah terulangnya banjir lumpur yang merugikan masyarakat sekitar.

Sumber : Redaksi

Editor : RESKI CFLE

Reporter : Red Fikar Silondae

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *