LUWU TIMUR-BEDAH.co.id.
Sabtu, 10 Oktober 2026 — Proyek revitalisasi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Luwu Timur, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, berdarah-darah di meja kritik. Proyek yang digadang-gadang membenahi fasilitas pendidikan ini justru menuai aromaanyir dugaan penyimpangan. Pangkal soalnya: lantai tegel lama dibiarkan mangkrak tanpa pembongkaran menyeluruh, sementara rabat lama dituding asal timpa demi memangkas anggaran.
Aktivis antikorupsi, Sunandar DL, dengan nada geram membongkar kejanggalan ini. Ia menilai klaim sepihak pihak sekolah dan konsultan bahwa pekerjaan telah “sesuai RAB” (Rencana Anggaran Biaya) sebagai pembelaan murahan yang melecehkan logika teknis konstruksi.
“Jangan berlindung di balik kalimat ‘sesuai RAB’ tanpa bisa membuktikan realisasi volumenya. Kalau di RAB ada pos anggaran pembongkaran total dan rabat baru, lalu faktanya tegel lama hanya ditumbuk dan ditimpa adukan seadanya, itu namanya merampok spesifikasi teknis!” cetus Sunandar dengan nada tinggi, Jumat (9/10/2026).
Pengakuan Kepala Sekolah: Serahkan ke Tukang, Gambar Perencanaan Pun Belum Dilihat
Dugaan bahwa proyek ini berjalan tanpa kendali mutu yang ketat semakin telanjang setelah Kepala SMAN 2 Luwu Timur, Rahmat Ilahi, melontarkan pengakuan mengejutkan saat dikonfirmasi via WhatsApp pada Kamis (8/10/2026).
Tanpa rasa risih, Rahmat mengakui pembongkaran lantai tidak dilakukan secara total.
(“Lantainya, tegelnya dibongkar, ada memang yang rendah ditumbukji, tidak semuanya dihancurkan. Tapi di lantai kasar dulu baru dipasangi tegel. Tapi tebalji. Itu kusen dan pintunya dipotong di bawah karena kandas pintu kalau tidak dipotong,”) dalih Rahmat.
Lebih parah lagi, saat didesak mengenai kesesuaian metode amburadul tersebut dengan gambar perencanaan teknis, Rahmat secara terbuka mengaku buta dokumen.
(“Tidak bisaka jelaskan, belum saya lihat gambarnya. Saya serahkan ke tukang,”) ujarnya tanpa beban.
Pernyataan ini sontak memantik kecaman keras. Bagaimana mungkin seorang penanggung jawab institusi pendidikan menyerahkan nasib uang negara senilai ratusan juta rupiah sepenuhnya kepada tukang tanpa pegangan gambar kerja (blue print) dan pengawasan melekat?
Konsultan Pengawas Bungkam Substansi, Berlindung di Balik “Sesuai RAB”
Di sisi lain, Konsultan Pengawas proyek, Mutmainnah, saat dikonfirmasi pada Jumat (9/10/2026), justru memberikan jawaban klise yang sarat akan aroma lemparan tanggung jawab.
(“Semua yang ada di lapangan sudah sesuai teknis pekerjaan dan RAB, Pak,”) tulis Mutmainnah singkat via WhatsApp, tanpa merinci hitungan teknis maupun volume pembongkaran riil di lapangan.
Klaim sepihak tanpa basis data teknis ini dinilai publik sebagai bentuk pembiaran akut. Konsultan pengawas yang digaji dari uang rakyat untuk mengawal mutu justru terkesan pasang badan menutupi carut-marut pelaksanaan fisik.
Sunandar Ancam Somasi dan Lapor Hukum
Melihat gelagat lepas tangan dari para pemangku kepentingan proyek, Sunandar DL tidak tinggal diam. Ia memastikan lembaganya akan melayangkan somasi terbuka dalam waktu dekat. Jika pihak terkait, termasuk Dinas Pendidikan selaku instansi berwenang, tetap bungkam dan gagal membuktikan kesesuaian fisik dengan dokumen kontrak, langkah hukum ke Aparat Penegak Hukum (APH) menjadi opsi mutlak.
“Negara tidak boleh kalah dengan praktik-praktik curang kontraktor nakal yang mempermainkan mutu fasilitas anak didik. Jika ditemukan selisih volume dan penyimpangan metode pengerjaan, ini bukan lagi sekadar kesalahan administrasi, tapi sudah merambah ke tindak pidana korupsi!” tegas Sunandar.
Publik Luwu Timur kini menagih ketegasan instansi terkait untuk turun tangan membongkar tuntas misteri di balik timbunan tegel lama SMAN 2 Luwu Timur. Pendidikan berkualitas mustahil lahir dari fondasi bangunan yang dikerjakan secara asal-asalan dan bermental “asal bapak senang”.
Sumber / Pewarta: Lukam
Editor: Rsk







