GOWA- BEDAH. co.id.
Sabtu,18 Juli 2026 – Sejarah Kabupaten Gowa tidak terlepas dari peran figur-figur lokal yang menjadi jangkar bagi rakyatnya.
Salah satunya adalah Sonda Daeng Tayang bin Dahan (1921–1999), seorang pemimpin yang dedikasinya sepanjang zaman, dari era kerajaan hingga transisi pemerintahan modern.
Pemimpin Pilihan Rakyat
Lahir di Tetebatu tahun 1921, Sonda Daeng Tayang dikenal sebagai pemimpin yang memiliki legitimasi kuat di mata rakyat dan penguasa.
Karier kepemimpinannya melesat pada tahun 1947 saat rakyat mempercayainya sebagai Gallaran Tetebatu.
Kapasitas manajerialnya yang mumpuni membuat ia ditarik ke dalam lingkar kekuasaan inti Kerajaan Gowa.
Pada tahun 1949, ia menerima mandat langsung dari Raja Gowa untuk menjabat sebagai Daengta Pallangga selama lima tahun—sebuah posisi strategis yang membawahi gabungan wilayah Pallangga dan Distrik Limbung.
Tahun 1955 menjadi puncak legitimasi politiknya ketika Kerajaan Gowa memberikan kepercayaan ganda kepadanya: memegang jabatan Gallaran Tetebatu sekaligus Daengta ri Pallangga.
Hingga era pembentukan desa pada tahun 1964, Sonda tetap menjadi sosok yang tak tergantikan. Ia terpilih sebanyak dua periode sebagai Kepala Desa Tetebatu sebelum akhirnya mendapatkan tugas dengan hormat pada 5 Mei 1975.
Garis Perjuangan dan Silsilah
Ketegasan Sonda Daeng Tayang dalam memimpin tidak terlepas dari lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi harga diri dan pengabdian.
Istri keempatnya, Hj. Habiba binti Mustapa Daeng Sutte, adalah putri dari seorang pejuang kemerdekaan legendaris.
Ayah mertua Sonda, Mustapa Daeng Sutte bin Imanrakkai, merupakan tokoh sentral perjuangan asal Tanah Gowa yang diutus mewakili Sulawesi Selatan dalam misi perjuangan kemerdekaan di Jawa Timur dan Madura pada tahun 1950.
Mustapa adalah putra tunggal dari Gallaran Tombolo, Imanrakkai Daeng Mangka, yang memadukan darah kepemimpinan tradisional dengan semangat nasionalisme.
Dari pernikahannya dengan Hj. Habiba, Sonda Daeng Tayang meninggalkan dua putra penerus: Arifuddin Sonda Daeng Rewa dan Syarifuddin Sonda Daeng Sigarra.
Warisan Sejarah
Sonda Daeng Tayang wafat di Sungguminasa pada tahun 1999.
Ia dikenang bukan hanya sebagai administrator pemerintahan yang cakap, namun sebagai sosok yang mampu menjaga stabilitas wilayah di masa-masa sulit.
Kisah hidup, yang bersinggungan dengan sejarah kerajaan dan perjuangan kemerdekaan (melalui garis keluarga Daeng Sutte), adalah bukti nyata kontribusi besar masyarakat Gowa dalam membangun fondasi daerah dan bangsa.
Sumber: Redaksi
Editor: Rsk







