BINJAI- BEDAH. co.id.
Senin,11 Mei 2026 -Maraknya aksi pembegalan, geng motor, balap liar, hingga tindak kriminal jalanan yang belakangan terjadi di Kota Binjai memang menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Namun di tengah situasi tersebut, DPC GMNI Kota Binjai menilai munculnya opini yang terus-menerus menyalahkan pihak kepolisian justru menunjukkan cara pandang yang tidak objektif dalam melihat persoalan kriminalitas yang sebenarnya cukup kompleks.
Melalui Ketua DPC GMNI Kota Binjai, Windi Tanjung, organisasi tersebut menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap langkah cepat Polres Binjai yang telah membentuk TIM ANTI BEGAL sebagai upaya mencegah dan menekan maraknya tindak kejahatan jalanan di Kota Binjai.
Menurut Windi, pembentukan TIM ANTI BEGAL merupakan bukti nyata bahwa Polres Binjai tidak tinggal diam dalam menjawab kesejahteraan masyarakat. Bahkan dalam beberapa waktu terakhir, aparat kepolisian juga aktif melakukan patroli, razia, penindakan terhadap geng motor, curanmor, hingga operasi kejahatan jalanan di sejumlah titik rawan.
Namun sangat berbahaya, di tengah upaya tersebut masih banyak pihak, khususnya di media sosial, yang dengan mudah menggiring opini seolah-olah seluruh kejahatan kriminalitas adalah kegagalan kepolisian.
“Kadang ada sebagian orang yang lebih cepat membuat status dan menyalahkan polisi dibandingkan memahami akar persoalannya. Padahal pelaku kejahatan itu bukan polisi, melainkan kriminal yang memanfaatkan kesempatan dan situasi,” ujar Windi Tanjung.
Ia menegaskan bahwa pembegalan bukan lahir karena keberadaan aparat, melainkan karena adanya niat pelaku yang diperkuat oleh peluang dan lemahnya kontrol sosial di lingkungan masyarakat.
“Polisi hadir untuk mencegah dan menindak.Tetapi keamanan juga membutuhkan dukungan masyarakat. Jangan sampai semuanya diserahkan kepada aparat, sementara lingkungan sekitar justru meminimalkan kepedulian,” lanjutnya.
Windi juga menyoroti fenomena media sosial yang menurutnya sering kali lebih memenuhi opini emosional dibandingkan sikap objektif.
Apalagi ketika aparat melakukan patroli dan tindakan tegas, masih saja muncul komentar sinis yang menyudutkan kepolisian.
“Kalau polisi bertindak disebut pencitraan. Kalau melakukan razia disebut berlebihan.
Tapi ketika ada, polisi juga yang pertama dituntut bertanggung jawab. Maka masyarakat harus adil melihat situasi,” katanya.
Menurut DPC GMNI Kota Binjai, masalah kriminalitas jalanan tidak bisa dilihat secara sederhana.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi meningkatnya kejahatan, mulai dari pergaulan bebas, pengaruh geng motor, lemahnya pengawasan keluarga, keterlibatan narkoba, hingga rendahnya kepedulian sosial masyarakat terhadap keamanan lingkungan.
Oleh karena itu, GMNI Kota Binjai mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung langkah preventif dan penindakan yang dilakukan Polres Binjai melalui pembentukan TIM ANTI BEGAL demi menciptakan rasa aman bagi masyarakat Kota Binjai.
“Keamanan bukan hanya tugas polisi, tetapi tanggung jawab bersama.
Kritik tentu boleh, tetapi jangan menjadikan aparat sebagai kambing hitam atas tindakan para pelaku kriminal. Ketika polisi bergerak menjaga kota ini, seharusnya masyarakat ikut memperkuat, bukan malah menyertakan opini yang tidak membangun,” tutup Windi Tanjung.
Sumber: Redaksi
Editor: Rsk
Reporter: Red (Jerrymia)







