Kritik Menohok ‘Lentera Merah Putih’ untuk Mahasiswa Hari Ini: Dari Agen Perubahan Menjadi ‘Mahasewa’ yang Merebut Piring Anak Miskin

            JAKARTA- BEDAH. co.id.

Minggu, 21 Juni 2026 -Gelombang aksi memadatkan mahasiswa akhir-akhir ini mendapat sorotan tajam dari masyarakat luas. Salah satu kritik paling keras datang dari opini publik yang dirilis oleh akun media sosial Facebook Lentera Merah Putih . Dalam tulisan bernada satir dan reflektif tersebut, gerakan mahasiswa era sekarang dikritik telah kehilangan substansi, mengalami degradasi moral, dan bertransformasi dari “Mahasiswa” menjadi “Mahasewa”.

Lentera Merah Putih menyoroti bagaimana energi intelektual kampus saat ini justru habis digunakan untuk meributkan isu-isu permukaan, salah satunya adalah menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.

​”Sungguh ironis, piring makan yang dinanti-nanti oleh bocah-bocah kecil yang busung lapar itu justru kalian rebut dan kalian jadikan komoditas debat di jalanan. Di saat orang tua mereka harus membuat keringat… kalian yang katanya ‘kaum agen perubahan’ justru sibuk isi piring yang sangat mereka butuhkan. Ke mana perginya empati intelektual kalian?” tulis akun Lentera Merah Putih dalam unggahannya.

 

Poin -Poin Utama Kritik Lentera Merah Putih:

  • Transformasi Menjadi ‘Mahasewa’: Mahasiswa hari ini dinilai terjebak dalam lingkaran konsumerisme pendidikan—sibuk membayar sewa gedung, parkir, hingga UKT yang mencekik—namun gagal melihat akar masalahnya.
  • Kehilangan Empati Sosial: Penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis dianggap melukai hati masyarakat kecil (kaum mayoritas 58%). Bagi anak-anak miskin, program tersebut adalah kemewahan, bukan sekadar komoditas politik.
  • Krisis Identitas Gerakan (Dibandingkan Era 1998): Jika angkatan 1998 turun ke jalan untuk menantang badai Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), mahasiswa hari ini dinilai hanya bertarung dengan bayangan dan meributkan “isu remuk rengginang”.
  • Salah Sasaran Tembak: Mahasiswa mengeluhkan biaya kuliah (UKT) yang mahal, tetapi abai bahwa dana pendidikan mereka dirampok oleh koruptor. Lentera Merah Putih mendesak mahasiswa untuk menyuarakan isu-isu yang lebih besar dan strategis, yaitu: “Segera Sahkan Undang-Undang Perampasan Aset untuk Koruptor!”

Peringatan dari Masyarakat “58%”

Melalui tulisan tersebut, Lentera Merah Putih yang mengeklaim berbicara sebagai representasi dari 58% masyarakat yang memilih diam, memberikan peringatan keras. Masyarakat saat ini sedang menonton dan menilai apakah kampus singa-singa telah berubah menjadi “kucing domestik” yang tega merebut jatah makan saudaranya sendiri yang kelaparan.

Di akhir rilisnya, sumber menegaskan agar siswa segera kembali ke khittah atau marwah perjuangan yang sesungguhnya. Yakni, menjadi benteng moral yang menakutkan bagi penguasa lalim dan fokus pada gagasan besar seperti memiskinkan koruptor untuk membiayai kuliah gratis, alih-alih terjebak dalam drama musiman yang egois.

Sumber : @Medsos Lentera Merah Putih 

Editor: Rsk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *