BINJAI- BEDAH. co.id.
Rabu,20 Mei 2026 -Keputusan sepihak dari panitia yang membatalkan sekaligus mengubah jadwal pertandingan — yang seharusnya dilaksanakan pada 14–16 Mei 2026 — menjadi 4–7 September 2026, menuai protes keras.
Sebanyak 19 atlet beserta orang tua, didampingi pelatih, melakukan aksi penyampaian keberatan ke kantor Pengurus Kota (Pengkot) Taekwondo Indonesia Binjai. Langkah ini diambil untuk menyalurkan kekecewaan seluruh atlet, orang tua, dan pelatih terkait pelaksanaan Kejuaraan Batam International Taekwondo Championship (BITC) di Batam.
Kekecewaan mendalam disampaikan oleh seluruh atlet, orang tua, dan pelatih Dojang Tiger Sumatera Binjai. Pasalnya, pembatalan serta perubahan jadwal itu diputuskan secara sepihak oleh panitia BITC tanpa mengadakan rapat koordinasi terlebih dahulu dengan seluruh kontingen yang terdaftar dan bersiap bertanding.
Pemberitahuan pembatalan itu disampaikan secara lisan melalui pesan singkat WhatsApp oleh salah satu panitia pada Selasa, 5 Mei 2026 pagi, sekitar pukul 07.53 WIB. Isi pesan yang dikirimkan sekretaris panitia berinisial “AY” kepada manajer tim berbunyi:
“Assalamualaikum dan selamat pagi Sabeumnim. Mohon maaf, kejuaraannya terpaksa dijadwalkan ulang. Untuk waktu pelaksanaannya, nanti siang baru bisa saya informasikan.”
Saat diwawancarai awak media di Coffee Day, Jalan Sultan Hasanuddin, pada Selasa, 19 Mei 2026 pagi, Kepala Pelatih Dojang Tiger Sumatera Binjai, Zainuddin, menyampaikan kekecewaannya.
“Kami sangat kecewa dengan keputusan panitia BITC yang membatalkan kejuaraan secara sepihak tanpa mengadakan pertemuan atau rapat koordinasi dengan seluruh dojang peserta. Hal ini terasa sangat berat bagi kami yang berasal dari luar Pulau Batam,” ujar Udin — sapaan akrab Zainuddin.
Ia merinci kerugian yang dialami pihaknya akibat keputusan tersebut. “Sebanyak 42 tiket kapal laut untuk keberangkatan dan 34 tiket kapal laut untuk kepulangan telah kami beli, ditambah 4 tiket pesawat. Kami juga sudah membayar pemesanan akomodasi hotel. Total kerugian yang kami alami mencapai puluhan juta rupiah. Belum lagi biaya pendaftaran 19 atlet yang sudah kami setorkan pada 4 Mei 2026; hingga saat ini dana itu belum dikembalikan sama sekali oleh panitia,” tegasnya.
“Saya pribadi berharap Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Kota Batam dapat membantu Dojang Tiger Sumatera Binjai. Kami memohon agar panitia bertanggung jawab mengganti seluruh kerugian akibat keputusan sepihak yang diambil hanya satu minggu sebelum kejuaraan berlangsung. Kekecewaan kami bertambah karena tidak ada keterlibatan tim peserta dari luar Pulau Batam dalam pengambilan keputusan penting ini,” tambah Sabeum Zainuddin.
Salah satu orang tua atlet yang tidak bersedia disebutkan namanya juga menyampaikan kekecewaan yang sama.
“Penyelenggaraan BITC di Batam ini sangat mencoreng nama baik dunia olahraga bela diri, khususnya cabang olahraga Taekwondo. Selama anak saya mengikuti berbagai kejuaraan di wilayah Sumatera Utara, belum pernah terjadi pembatalan mendadak seperti ini. Apalagi jadwal yang baru ditetapkan mundur berbulan-bulan lamanya. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah acara ini hanya kedok semata, atau justru menjadi ajang yang menguntungkan pihak panitia saja?” tegasnya.
“Dampak psikologis dan mental anak saya sangat terguncang sejak pembatalan ini diumumkan. Ia sudah melalui masa persiapan dan latihan yang panjang dan berat, namun keputusan panitia diambil seenaknya saja tanpa rasa tanggung jawab. Di Sumatera Utara, meski peserta sedikit atau banyak, kejuaraan tetap berjalan sesuai jadwal dan panitia memiliki komitmen tinggi. Peristiwa ini justru merusak mental anak-anak dan mencoreng citra Taekwondo. Ke depannya, dikhawatirkan minat anak-anak berkurang, serta kepercayaan atlet Dojang Tiger Sumatera Binjai terhadap pelatih menjadi goyah akibat janji yang tidak ditepati,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Manajer Tim Dojang Tiger Sumatera Binjai, Jerrymia Hutabarat, SE., menambahkan penjelasan terkait upaya mediasi yang telah dilakukan.
“Kami sudah berusaha berkomunikasi dengan pihak panitia, khususnya saudara AY selaku sekretaris. Data rinci mengenai kerugian yang kami derita akibat pembatalan BITC sudah kami kirimkan kepadanya. Namun, hingga kini yang kami terima hanya janji-janji manis semata,” ujarnya.
“Awalnya ada kesepakatan bahwa pihak panitia yang diwakili AY akan mengganti seluruh kerugian yang timbul akibat keputusan mereka. Namun komitmen itu ternyata diingkari. Tidak ada realisasi pembayaran sama sekali, bahkan biaya pendaftaran pun belum dikembalikan. Saya berharap PBTI dan Forkompinda Kota Batam dapat memfasilitasi pertemuan kami dengan ketua panitia, agar hak kami atas penggantian kerugian dapat dipenuhi dan direalisasikan,” tandas Jerrymia.
Hingga berita ini diturunkan, pihak panitia yang diwakili AY selaku sekretaris belum dapat dikonfirmasi keterangannya oleh awak media.
Sumber: Redaksi
Editor: Rsk







